28 February 2013

Menentukan Arah

Selamat siang para pemirsa,

Saya mau sedikit bicara tentang hidup, tentang tujuan hidup.. ini hasil diskusi di sebuah restoran hotel dengan seorang teman dekat saya, (pernah) dekat sekali. pada saat diskusi ini berlangsung saya sebenernya masih agak mengharapkan kembali situasi kedekatan dengan teman saya ini, sebut saja ia "E" (bukan nama sebenernya). Saat itu saya sedang merasa jenuh dengan hidup saya, dan ketika E bertanya, "apa sih yang lagi kamu mau?" saya langsung spontan jawab, "mati". Rasanya emang saat itu saya lagi ga mau apa-apa, rasanya apa yang saya mau (dengan sangat) berakhir dengan kecewa, berakhir dengan rasa menyesal telah mengharapkan dan membayangkan terlalu jauh dengan apa yang saya mau.

Rasa kecewa hadir memang ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan saat harapan itu menjadi tujuan kita. Saat ini saya sungguh tidak tau musti mengharapkan apa, harus memiliki tujuan seperti apa.. dan setelah saya bercerita tentang kegalauan saya itu, si E bilang,

"kalo kamu tidak bisa membuat tujuan hidup kamu sendirian, mungkin kamu butuh teman untuk bisa menentukan tujuan hidup bersama-sama, kamu butuh segera punya pendamping".

Jawaban yang sederhana namun menyiksa batin saya seketika, bukan apa-apa.. kalimat itu datang dari seorang yang tau saya masih suka dengannya, masih mengharap kebersamaan dengannya... aah.. tapi klo ditelaah ada benarnya juga pernyataan si E ini. Berlaku bagi siapapun, jika sudah bingung menentukan arah tujuan kendaraannya, hidupnya, mereka butuh teman yang bisa mengarahkan, bisa menentukan bersama arah tujuannya dan itu rasanya lebih asik. Seperti supir yang butuh kenek, pilot yang butuh co-pilot, atau seorang pembalap yang butuh navigator disampingnya.


Tapi tidak semudah itu menentukan, menunjuk siapa kenek saya, siapa navigator hidup saya.. karena jika tujuannya tidak sama, atau rumusan tujuannya tidak sejalan dengan saya atau kenek saya kelak, bisa-bisa kendaraan yang saya pakai mengarungi rimba hidup ini terlantar, ditinggalkan dan kemudian usang.. itu jelas bukan tujuan saya..

16 February 2013

fokus saja dulu

Seharusnya ada tulisan pembuka sebelum tulisan ini, tulisan tentang rumah, sekolah,nikah.. tapi entah kenapa di draft ga ada. Tp ga ada hubungannya juga sih sm tulisan yg sekarang,, atau ada? Kalian lah yang jawab, jangan gw..

Kalian pasti tahu, setiap manusia selalu memiliki keinginan, keinginan memiliki sesuatu, keinginan meraih sesuatu, atau keinginan membuang sesuatu yang tidak lagi berguna.. tapi kadang kala keinginan kita melebihi batas kemampuan, memaksa keadaan dan bahkan cenderung menghancurkan apa yang kita miliki saat ini.

Sering juga kita memiliki begitu banyak keinginan yang kita ajukan pada Tuhan sampai-sampai mungkin Beliau agak bingung mau mengabulkan yang mana dulu. Gw percaya Tuhan itu maha memberi, tapi kita sebagai manusia jangan terus malah meminta segala yang kita mau tanpa fokus dengan apa yang kita butuhkan, dengan apa yang kita prioritaskan tuk kita raih.

Memiliki mimpi itu sah-sah saja asal kita fokus. Coba kalian liat pilem-pilem yang bertemakan mimpi, pasti cuma satu tujuan akhir yang jadi fokus cerita, ya kan? Itulah yang bikin mimpinya terwujud diakhir cerita dan menjadi laku pilemnya. Coba bayangin klo mimpinya 'seabreg', pasti penonton juga bosan dan pasti ga laku pilemnya.

Makanya kita harus punya target dalam hal pencapaian mimpi kita, tau petanya, tau lobangnya, kita siasati biar mulus jalannya.. ;)

Oke, terlalu ga fokus isi tulisan ini, lebih baik disudahi dan kita tidur, krna besok pagi mau ke nikahan rina.. ;)

Ciamis.