Tahun baru, selalu identik dengan hitung mundur, suara riuh terompet, dan warna-warni indah kembang api di langit malam... walaupun memang tidak melulu harus seperti itu memeriahkannya, karena ternyata ada juga yang menyambut tahun baru dengan melakukan pengajian akbar di masjid atau di lapangan. Itulah uniknya indonesia, kami ramai dengan berbagai budaya dan selera, namun tetap bersahaja satu sama lain...
Tidak mau kalah, di tahun baru ini, saya yang sudah setahun bekerja dan menghabiskan hari di kota Jakarta, pengen dong nyobain rasanya tahun baru di kota yang katanya akan tenggelam pada tahun 2030 jika pertumbuhan dan perkembangannya tidak terkendali dan tidak memperhatikan kawasan lindungnya... awalnya sih pengen pulang aja ke rumah di serang, kumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga, tapi karena sesekali pengen merasakan riuh kota di malam tahun baru, saya putuskan di jakarta saja menantikan momen2 pergantian tahun...
Kesalahan pertama yang saya lakukan pada malam tahun baru adalah, saya tidak mencari meeting point yang dekat dengan tujuan akhir untuk menyaksikan kembang api. Awalnya saya memilih monas untuk menjadi objek foto dengan latar belakang kembang api, tapi rencana yang telah saya susun itu sedikit terganggu karena beberapa hal toleransi..
Tidak mau kalah, di tahun baru ini, saya yang sudah setahun bekerja dan menghabiskan hari di kota Jakarta, pengen dong nyobain rasanya tahun baru di kota yang katanya akan tenggelam pada tahun 2030 jika pertumbuhan dan perkembangannya tidak terkendali dan tidak memperhatikan kawasan lindungnya... awalnya sih pengen pulang aja ke rumah di serang, kumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga, tapi karena sesekali pengen merasakan riuh kota di malam tahun baru, saya putuskan di jakarta saja menantikan momen2 pergantian tahun...
Kesalahan pertama yang saya lakukan pada malam tahun baru adalah, saya tidak mencari meeting point yang dekat dengan tujuan akhir untuk menyaksikan kembang api. Awalnya saya memilih monas untuk menjadi objek foto dengan latar belakang kembang api, tapi rencana yang telah saya susun itu sedikit terganggu karena beberapa hal toleransi..
Setelah kami berempat santap makan malam di plasa semanggi, teman kami yang sedang tidak enak badan undur diri untuk tidak ikut melewatkan pergantian tahun bersama kami, akhirnya kami berpisah dan tinggal saya dan 2 orang teman yang melanjutkan perjalanan. Kami bertiga (1 cewek 2 cowok) berjalan menelusuri jalan jenderal sudirman yang sudah mulai padat dengan kendaraan yang menuju arah yang sama dengan kami... awalnya gila, kami berencana untuk jalan sampai tujuan kami, tapi karena saya tidak mau gila, akhirnya kami naik metromini 15 untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan kami (saat itu masih monas yang menjadi tujuan). Karena saking padatnya jalanan, mungkin pilihan gila untuk jalan kaki yang sebelumnya terpikirkan, menjadi pilihan yang pas saat kami duduk di metromini, rasanya bus ini tidak lebih cepat dengan derap langkah pejalan kaki yang ada diluar sana...
setelah sekitar hampir satu jam lebih perjalanan yang biasanya bisa dicapai kurang dari 10 menit ini terganggu dengan pengalihan jalan yang membuat kami akhirnya memilih untuk melanjutkan perjalanan menggunakan otot kaki dari dukuh atas menuju bunderan HI (destinaton change)...
gila, jalanan penuh banget, di sepanjang jalan banyak sekali pengendara motor, mobil juga sepeda yang meramaikan jalan dengan bunyi2an terompet yang menurut saya sih belum waktunya untuk di tiup. Temen cewek saya sepertinya iri pengen juga meniup terompet di malam tahun baru ini, karena dia baru saja di kerjain kakek2 yang sengaja melewati teman cewek saya itu dengan meniupkan terompet yang dia bawa... akhirnya kami berhenti buat beli terompet seharga 5000..
Melanjutkan perjalanan, saya iseng mengusulkan pindah jalur dan saat menyebrang, saya memanfaatkan waktu untuk mengambil gambar kondisi jalam malam itu dari jembatan penyebrangan.. gila, padat banget!!!
Di sepanjang jalan menuju bunderan HI banyak banget sepeda2 yang diparkir dengan berbagai tipenya, membuat saya iri saja.. ada sepeda lipat (seli), sepeda gunung (mtb), dan tipe sepeda yang saat ini lagi tren, sepeda balap yang dimodif dengan model fixienya... tidak mau ketinggalan, saya manfaatkan kesempatan itu sebagai ajang survey sepeda2 yang mau saya pilih nanti untuk memenuhi salah satu resolusi tahun 2011.
Akhirnya sampai juga di daerah bunderan HI, langsung saya mencari tempat dengan spot yang enak, yang tidak terlalu padat buat ambil gambar... banyak juga yang ternyata mengabadikan momen ini dengan kamera dan gadget lainnya.
Ini pengalaman pertama saya mengambil gambar percikan api di angkasa dengan canny, camera yang saya beli dari forum jual beli di kaskus.us dengan harga miring. Ternyata tidak mudah, karena selain harus mengatur speed dan bukaan, saya juga harus mencari timing yang pas supaya api yang saya tangkap memang sedang berkembang dengan baik dan sempurna... untung saja, sudah dari setengah jam sebelum waktu menunjukan waktu 00.00 sudah banyak yang menyulut kembang api, lumayan untuk latihan sebelum “menangkap” yang besar...
Setelah “menu utama” berlangsung, saya mendekat ke arah kolam dan mengambil gambar situasi disana. Ada yang langsung menyeburkan diri ke dalam kolam dengan tujuan sebagai ritual untuk menyambut tahun yang baru supaya bis alebih menyegarkan dan lebih baik menurutnya, ada juga yang masih tetap mengambil gambar dan bernarsis-narsis ria dengan latar tugu selamat datang itu, tidak sedikit dari mereka yang berpasangan, melewatkan malam pergantian tahun dengan sambil membisikan kata2 romantis dan berjabat erat *membuat saya iri saja*
Selesai dari bundaran HI, saya yang sengaja memisahkan diri dari 2 orang teman menuju tempat minum kopi 24jam di bilangan sarinah. Kami kembali ketemu disana untuk minum bersama. Ga kerasa jam di tangan menunjukan angka 2 dengan beberapa dijit dibelakangnya dan kami memutuskan untuk menyudahi ke heningan diantara kami itu yang entah kenapa bisa terjadi suasana seperti itu. Kami berpisah kembali, 2 teman mencari taksi untuk mereka berdua pulang, tapi saya memilih untuk berjalan kaki menuju kost yang jaraknya kurang lebih 3.5 KM sambil melihat kondisi after party di jalanan.
3 jam 15 menit dihari pertama di tahun yang baru ini, saya menginjakkan kaki di kamar kost, menunggu adzan subuh dan kemudian kembali terlelap pukul 5 kurang...










No comments:
Post a Comment